Kalau kamu bagian dari digital agency, brand team, atau kreator konten dan strategi media brand kamu masih ngejar konversi, apalagi cuma lewat last-click attribution, saatnya kamu evaluasi ulang. Karena digital marketing yang hanya fokus ke angka, seperti klik, CTR, dan CPA, bisa bikin kamu kehilangan esensi utamanya: membangun brand memory.
Banyak digital agency (dan klien mereka) masih terlalu terpaku pada performa jangka pendek. Padahal, konsumen nggak jalanin hidupnya dalam bentuk funnel. Penting untuk melihat realita audience hari ini. Mereka terinspirasi lewat momen, bisa dari satu video TikTok, obrolan teman, atau bahkan billboard di stasiun.
Makanya, sekarang banyak agency dan tim video production yang mulai berpikir lebih strategis. Bukan cuma bikin konten viral, tapi menciptakan experience yang melekat. Di dunia penuh distraksi, brand yang diingat bukan yang paling sering muncul, tapi yang paling relevan dan menyentuh emosi.
Contoh nyata? Aktivasi sensorial di stasiun Seoul oleh sebuah brand skincare global. Tanpa QR code, tanpa performance media. Hanya storytelling yang kuat dan pengalaman fisik yang autentik. Hasilnya? Brand recall naik tiga kali lipat.
Di Asia, terutama di pasar dengan budaya konteks tinggi seperti Jepang atau Indonesia, kehadiran fisik punya makna besar. Billboard, toko flagship, bahkan bungkus kereta bisa jadi panggung brand yang lebih efektif dari seribu impressions.
Digital strategy dan komponen lainnya tetap penting, jelas. Tapi kalau kamu mau menang di era ini, entah sebagai brand, digital agency, TikTok agency, atau tim video production, jangan cuma kejar angka aja.
Kejar memori. Karena yang diingat, adalah yang menang.
Sumber: